Pandeglang, perisaitangerang.com – 19 mantan narapidana terorisme (napiter) mengikuti pelatihan teknisi air conditioner (AC) di Balai Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDMD) Banten, Kecamatan Karangtanjung, Kabupaten Pandeglang.
Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya reintegrasi sosial setelah para peserta menyatakan ikrar setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) serta mengakui Pancasila.
Para peserta diketahui merupakan eks anggota Jamaah Islamiyah yang kini berkomitmen meninggalkan paham lama dan memulai kehidupan baru. Kegiatan tersebut diinisiasi oleh Densus 88 Antiteror Polri dan didukung PT Astra International sebagai bagian dari program pencegahan tindak pidana terorisme sesuai amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018.
Dept Head Strategic Business Intelligent PT Astra International, Jaka Fernando, mengatakan pelatihan teknisi AC merupakan bentuk kerja sama berkelanjutan antara Astra dan Densus 88 AT Polri. Kerja sama tersebut telah dituangkan dalam nota kesepahaman yang ditandatangani pada 19 November 2024.
“Ini merupakan kali keenam pelatihan teknisi AC yang kami selenggarakan bersama Densus 88 untuk para eks napiter dan jaringan teror di Indonesia,” ujar Jaka, Kamis (30/4/2026).
Ia menjelaskan, pelatihan teknisi AC dipilih karena kebutuhan perawatan dan servis pendingin udara di Indonesia terus meningkat seiring tingginya penggunaan AC di rumah maupun gedung.
Pelatihan kali ini diikuti 19 peserta dari kalangan eks napiter serta melibatkan unsur Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah di wilayah Banten. Keterlibatan lintas kelompok ini diharapkan memperkuat proses saling mengenal dan mendorong reintegrasi sosial di masyarakat.
Selain peningkatan keterampilan, peserta juga dibekali perlengkapan servis AC agar dapat langsung bekerja setelah pelatihan selesai. Program ini diharapkan mampu mendorong kemandirian ekonomi sehingga tidak kembali bergantung pada jaringan lama.
Pelatihan ini turut melibatkan alumni yang telah berhasil sebagai asisten pelatih, yakni Kusnadi asal Serang dan Kartono dari Bogor. Program deradikalisasi melalui pelatihan teknisi AC tersebut telah memasuki angkatan ke-6.
Sementara itu, Densus 88 mengedepankan strategi soft approach dalam penanggulangan terorisme melalui pendekatan kemanusiaan, dialog, serta pendampingan berkelanjutan bagi individu yang sebelumnya terpapar paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme.
Strategi tersebut dinilai efektif, antara lain ditandai dengan capaian nihil serangan dalam tiga tahun terakhir serta menurunnya angka penangkapan kasus terorisme.
Melalui kolaborasi berkelanjutan, pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat diharapkan dapat terus memperkuat upaya penanggulangan terorisme di Indonesia guna menciptakan situasi yang aman dan kondusif. (wis/tmn/dam)