Tangsel, perisaitangerang.com – Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bersama TikTok Indonesia kembali menggelar Kampanye #SalingJagaTunasBangsa di Kota Tangerang Selatan sebagai bagian dari upaya memperluas perlindungan remaja di ruang digital. Kegiatan itu merupakan rangkaian ketiga kampanye serupa setelah sebelumnya dilaksanakan di Jakarta dan Bandung.
Sebelumnya, kampanye tersebut telah digelar di Jakarta pada 25 November 2025 dan Bandung pada 19 Desember 2025, dengan melibatkan ratusan peserta di setiap kota. Tingginya antusiasme peserta menunjukkan meningkatnya perhatian masyarakat, khususnya orang tua, terhadap pentingnya perlindungan remaja di ruang digital.
Kampanye ini menghadirkan pembekalan bagi orang tua dan pendidik agar dapat mengikuti perkembangan teknologi digital, sekaligus membangun ekosistem digital yang aman dan sehat bagi remaja. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang refleksi atas masih adanya kesenjangan kecakapan digital di masyarakat, terutama di kalangan orang tua dan tenaga pendidik yang memiliki peran penting dalam mendampingi aktivitas digital remaja.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, dalam sambutannya menegaskan bahwa kolaborasi lintas pemangku kepentingan menjadi kunci untuk menciptakan pengalaman digital yang positif bagi generasi muda.
“Ruang digital ibarat jalan terbuka yang penuh peluang bagi remaja. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP TUNAS) hadir untuk memastikan ruang digital tetap aman tanpa membatasi hak berekspresi serta tetap menjamin akses informasi yang tepat,” ujar Nezar, dikutip Rabu (21/1/26)
Ia menambahkan, sinergi antara pemerintah, penyelenggara sistem elektronik (PSE), dan masyarakat sangat diperlukan agar implementasi PP TUNAS berjalan optimal.
Sementara itu, Wali Kota Tangerang Selatan melalui sambutan tertulis yang dibacakan Wakil Wali Kota Tangerang Selatan Pilar Saga Ichsan, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi lintas sektor tersebut. Menurutnya, kegiatan ini relevan bagi Tangerang Selatan yang memiliki jumlah populasi remaja cukup tinggi.
“Kegiatan ini menjadi ruang diskusi langsung bersama para ahli, mulai dari perwakilan PSE, pemangku kebijakan, psikolog, hingga kreator parenting. Peserta tidak hanya diajak memahami pentingnya komunikasi terbuka dengan remaja, tetapi juga dibekali kecakapan digital untuk melindungi mereka dari berbagai risiko di ruang digital,” ujar Pilar.
Sebagai mitra strategis pemerintah, TikTok Indonesia menegaskan komitmennya dalam menjaga keamanan pengguna, khususnya remaja. Head of Public Policy & Government Relations TikTok Indonesia, Hilmi Adrianto, menyatakan bahwa keamanan pengguna menjadi prioritas utama platform tersebut.
“Melalui fitur keamanan, edukasi literasi digital bagi remaja dan orang tua, serta kerja sama dengan para ahli dan pemangku kepentingan, kami berupaya menghadirkan pengalaman digital yang positif. Kami mengapresiasi langkah Komdigi melalui kampanye #SalingJagaTunasBangsa,” kata Hilmi.
Dalam mendukung perluasan kampanye, Lampu.id menggandeng lebih dari 20 komunitas sebagai mitra penggerak untuk menguatkan sosialisasi PP TUNAS. Sinergi ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran orang tua dalam mendampingi dan mengawasi aktivitas digital remaja secara berkelanjutan.
Salah seorang peserta, Taufiq yang juga merupakan Ketua Relawan TIK Provinsi Banten memantik diskusi tentang pentingnya peran orang tua hadir dalam dunia digital anaknya khususnya yang sedang beranjak remaja. Dengan semangat belajar literasi digital yang tinggi bagi para orang tua serta komunikasi yang baik dengan anak, diharapkan terbangunnya keluarga yang cakap digital.
“Kami dari Relawan TIK ketika melakukan edukasi kepada masyarakat seringkali menemukan para orang tua yang sudah mengaku menyerah, merasa dirinya kekurangan atau istilahnya gaptek namun tidak mau belajar sehingga tidak sedikit kasus dikelabui bahkan perangkat digital orang tuanya disadap oleh anak. Kami mengajak seluruh orang tua untuk terus mau belajar literasi digital khususnya digital parenting, pokoknya No-Gaptek-Gaptek-Club,” ungkap Taufiq.
Selain itu, Taufiq juga menyayangkan banyaknya orang tua di ruang publik dengan dalih agar anaknya tenang diberikan gawai untuk menonton video-video pendek tanpa batasan waktu yang jelas. Padahal video pendek (¬short) dari berbagai platform ini berdasarkan penelitian akan berdampak negatif jangka panjang, khususnya terkait tingkat waktu fokus seseorang.
“Akhirnya, kami berharap melalui kegiatan ini menjadi titik awal dan terus dibumikan ke seluruh penjuru negeri agar membangun kesadaran orang tua, sehingga dapat mencegah efek bola salju baik media sosial, aplikasi percakapan, atau gim yang tidak laik bagi anak kita, khususnya terkait rating, regulasi, batasan, dan dampak negatif lainnya,” harap Taufiq. (dam)