Abu Vulkanik Mengancam, PJJ Sekolah di Banten Diperpanjang!

Serang, perisaitangerang.com – Pemerintah Provinsi Banten memperpanjang pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi siswa SMA, SMK, dan Sekolah Khusus (SKh) hingga Jumat (11/9/2026).

Kebijakan tersebut diambil karena kondisi kualitas udara yang terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau dinilai belum aman untuk kegiatan pembelajaran secara tatap muka.

Keputusan itu ditetapkan setelah Gubernur Banten Andra Soni memimpin rapat koordinasi dan pemantauan di Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang.

Rapat tersebut dihadiri Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau Pasauran M. Nugraha Kartadinata, Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Banten M. Lutfi, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten Ati Pramudji Hastuti, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Banten Wawan Gunawan, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Banten Agus Supriyadi, Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian Provinsi Banten Beni Ismail, Plt. Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Banten Endad Haryanto, serta Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten Rahmat Tamam.

“Erupsi hari ini memang sudah menurun. Namun, berdasarkan rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), masyarakat dilarang mendekati lokasi dalam radius 3 kilometer dan diwajibkan menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan,” ungkap Gubernur Andra, dikutip Wartawan, Rabu (9/9/2026)

Andra juga menyoroti peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang diduga berkaitan dengan paparan abu vulkanik. Berdasarkan laporan di lapangan, kasus ISPA yang dalam kondisi normal berada di kisaran 2.000 kasus kini meningkat menjadi sekitar 4.500 kasus.

Atas kondisi tersebut, perpanjangan PJJ dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan siswa. Pemprov Banten juga memastikan pemantauan terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau terus dilakukan, mengingat gunung tersebut masih berstatus Siaga (Level III) sejak 2 Juli 2026.

“Kami terus melakukan pemantauan. Sampai saat ini, gunung masih mengeluarkan abu hitam yang pergerakannya bergeser ke arah samudra. Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada,” tambah Gubernur Andra.

Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau Pasauran, M. Nugraha Kartadinata, mengatakan aktivitas erupsi saat ini masih bertipe strombolian. Menurutnya, aktivitas tersebut berpotensi melontarkan material vulkanik hingga lebih dari dua kilometer.

“Selain abu vulkanik, erupsi ini juga melontarkan batuan. Karena itu, kami merekomendasikan agar tidak ada aktivitas warga dalam radius 3 kilometer. Kepada wisatawan atau siapa pun, saya imbau untuk tetap menjauh dari radius bahaya,” tegas Nugraha.

Setelah rapat koordinasi, Gubernur Banten Andra Soni melanjutkan peninjauan ke SMKN 1 Cinangka, Kabupaten Serang.

Di lokasi tersebut, petugas terlihat melakukan pembersihan debu vulkanik yang menempel di area sekolah dengan menggunakan teknik pembasahan. (wis/mas/dam)